Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan,
Mei 2021
ANALISIS POTENSI HABITAT DAN
KORIDOR HARIMAU SUMATERA DI KAWASAN HUTAN LINDUNG BUKIT BATABUH, KABUPATEN
KUANTAN SINGINGI, PROVINSI RIAU
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh:
Meyrizkiana Wijaya
Br Sitepu
191201041
HUT 4B
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) merupakan satu diantara enam subspesies harimau (Panthera Tigris) yang ada di dunia dan masih bertahan hidup. Keberadaan satwa ini hanya dapat ditemukan di pulau Sumatera. Panthera tigris sumatrae merupakan subspesies Panthera tigris yang tersisa di Indonesia. Harimau Sumatera berperan besar dalam menjaga ekosistem hutan, karena merupakan predator utama dalam rantai makanan (food chains) yang dapat menjaga keseimbangan populasi mangsa liar yang ada di bawahnya. Selain itu Harimau Sumatera merupakan satwa yang dilindungi oleh pemerintah dan diatur oleh undang undang. Satwa ini termasuk satwa kritis dan terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah oleh lembaga konservasi dunia (International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia no.5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Dephut, 2007).
Harimau Sumatera memiliki karakteristik yaitu bersifat kriptif/menyamar dengan ciri khas loreng kuning keemasan dan garis hitam, bersifat elusive/sukar dipahami lebih cenderung menghidar dari perjumpaan langsung dengan manusia, bersifat memiliki kepadatan populasi rendah yang tergantung dengan kelimpahan mangsa, perilaku soliter dan daerah jelajah luas, bersifat tegantung satwa dan mangsanya yaitu (rusa, babi, kijang, atau jenis ungulata), bersifat memiliki daerah jelajah yang luas (home range) tergantung dari jenis umur dan jenis kelamin dan memiliki sifat teritorial yaitu daerah kekuasaan untuk bertahan hidup dan berkembang biak dengan luas minimal 15-20 Km² (Haidir dkk., 2017).
Habitat alami harimau Sumatera adalah di alam bebas, sepanjang tersedia cukup mangsa dan sumber air, serta terhindar dari berbagai ancaman potensial. Di habitat aslinya, harimau Sumatera terdapat di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan, dengan ketinggian antara 0 – 3.000 meter di atas permukaan laut. Harimau Sumatera memerlukan tiga kebutuhan dasar yaitu ketersediaan hewan mangsa yang cukup, sumber air, dan tutupan vegetasi yang rapat untuk tempat menyergap mangsa. Harimau merupakan satwa yang soliter, jarang dijumpai berpasangan, kecuali pada harimau betina beserta anak-anaknya. Harimau dapat berkomunikasi melalui bau-bauan dan suara. Harimau mempunyai indra penciuman yang kuat dan seringkali meninggalkan tanda berupa urin dengan bau yang khas. Tanda tersebut berfungsi sebagai penanda jalan, penanda wilayah kekuasaan atau sebagai alat komunikasi informasi yang lebih spesifik seperti identitas individu, periode waktu individu harimau lewat pada areal tertentu, dan penanda estrus pada harimau betina (Ganesa dan Aunorohim, 2012).
Harimau Sumatera merupakan sub spesies dengan ukuran tubuh rata-rata terkecil di antara subspesies harimau yang ada saat ini. Harimau sumatera jantan memiliki rata-rata panjang darikepala hingga ekor 240 cm dan berat 120 kg. Sedangkan betina memiliki rata-rata panjang darikepala hingga ekor 220 cm dan berat 90 kg. Harimau sumatra hanya dijumpai di pulauSumatera, terutama di hutan-hutan dataran rendah sampai dengan pegunungan. Wilayah penyebarannya pada ketinggian 2.000 m dpl tetapi kadang-kadang jugasampai ketinggian lebih dari 2.400 m dpl . Satwa predator ini setiap hariharus mengkonsumsi 5-6 kg daging yang sebagian besar (75%) terdiri atas hewan-hewanmangsa dari golongan rusa (Dephut, 2007).
1.2
Rumusan Masalah
- Bagaimana Populasi dari Harimau Sumatera?
- Bagaimana Pengelolaan Habitat dari Harimau Sumatera?
- Bagaimana Potensi Ekonomi dari Harimau Sumatera?
1.3 Tujuan
- Untuk Mengetahui Populasi dari Harimau Sumatera
- Untuk Mengetahui Pengelolaan Habitat dari Harimau Sumatera
- Untuk Mengetahui Potensi Ekonomi dari Harimau Sumatera
BAB II
ISI
2.1 Populasi Harimau Sumatera
Harimau Sumatera merupakan salah satu dari Sembilan subspecies yang ada di dunia. DiIndonesia, Harimau Sumatera yang masih bertahan hidup, setelah Harimau Jawa dan Harimau Bali dinyatakan punah pada tahun 1980an dan 1940an. Dalam struktur piramida makanan, Harimau Sumatera merupakan top predator pada posisi puncak piramida. Kondisi tersebut keberadaannya sangat rentan terhadap kepunahan dibandingkan jenis satwa lainnya. Keberadaan Harimau Sumatera dari tanda-tanda bekasnya dapat di jumpai habitat hutan dataran rendah, perbukitan dan pegunungan (Adnan, 2016).
Harimau Sumatera dapat ditemui keberadaannya di hutan sekunder Taman Nasional Tesso Niladan Hutan Tanaman Industri (HTI), dan tidak ditemukan di perkebunan Kelapa Sawit karena aktifitas manusua yang lebih tinggi. Sedangkan populasi satwa mangsanya di temukan di 3 (tiga) habitat tersebut. Taman Nasional Way Kambas memiliki tipe habitat hutan daratan rendah, hutan rawa danhutan bekas terbakar (padang alang-alang). Keberadaan Harimau Sumatera dan satwa mangsadi temukan di 3 (tiga) habitat tersebut (Sumitran, 2013).
Populasi Harimau Sumatera di Taman Nasional Batang Gadis sagat rendah, sedangkan satwa mangsa seperti babi dan rusa melimpah. Hal ini diperlukan pengaturan jumlah populasi, jika tidak dilakukan pengaturan akan sangat rentan terjadi ledakan populasi pada satwa mangsa yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan potensi terjadinya konflik dengan lahan pertanian masyarakat yang berada di sekitar hutan. Kesesuaian habitat Harimau Sumatera di Taman Nasioal Bukit Barisan Selatan di pengaruhi menggunakan teknologi pengindaraan jauh dan hasil survey lapangan yang dihubungkan dengan faktor manusia dan lingkungan. Faktor manusia sangat dipengaruhi oleh jarak dari tepian area deforestasi dan faktor lingkungan di pengaruhi oleh jumlah satwa mangsa Harimau Sumatera (Kuswanda dkk., 2010)
Jumlah populasi Harimau Suatera di alam yang pasti dengan metode ilmiah masih terus dilakukan kajian oleh para pihak. Dokumen SRAKHS menunjukan hasil penelitian bahwa estimasi Harimau Sumatera dalam pengelolaan in situ sekitar 400 ekor, pengelolaa ex situ yaitu terdapat 127 ekor di Lembaga Konservasi Dalam Negeri dan 244 ekor di Lembaga Konservasi tersebar di seluruh dunia. Dalam rangka pemantauan populasi harimau yang dilakukan secara berkelanjutan,menggunakan metode penelitian secara ilmiah, dapat digunakan oleh seluruh pihak yang konsentrasi dalam konservasi Harimau Sumatera dan menggunakan metode yang telah digunakan di seluruh negara yang memiliki Harimau. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan panduan dalam pemantauan dan analisis populasi Harimau Sumatera yang terstruktur (Haidir dkk, 2017)
2.2 Pengelolaan Habitat Harimau Sumatera
Harimau sumatera tergolong pada salah satu hewan yang mampu bertahan hidup dimana pun. Kemampuan adaptasi yang hebat dilengkapi dengan sifat buasnya yang sangat pandai dan cerdas untuk menjadi predator membuat harimau mampu untuk hidup baik di dataran tinggi, hutan pegunungan ataupun hutan liar yang tidak terlindungi. Adapun untuk habitat yang baik untuk harimau sumatera yaitu habitat dimana tempat tersebut memiliki pasukan makanan yang memadai, cukup akan air, udara dan sinar matahari. Pada umumnya kawasan hutan yang sangat cocok untuk harimau sumatera ini adalah hutan dengan ketinggian dari 0 hingga 2000 meter di atas permukaan laut (dpl) (Suyadi, 2012).
Pada alam liar atau hutan harimau sumatera cenderung untuk mengklaim area teritori mereka masing masing, masing masing wilayah teritorinya tersebut sangat berkaitan dengan kenyamananya untuk bersarang. Biasanya masing-masing harimau sumatera menandai wilayah teritorinya dengan tanda cakaran miliknya dan bau urin serta feses mereka. Untuk jenis habitat khusus yang dicintai oleh harimau sumatera, biasanya harimau sumatera menyukai hutan jenis hutan hujan tropis, hutan rawa, hutan bersungai, semak belukar, padang rumput, hingga alang-alang. Habitat hutan tersebut diperlukannya untuk perlindungan dirinya dan gerombolannya, sekaligus untuk kenyamanannya dalam berkembang biak. Harimau sumatra hanya dijumpai di pulau Sumatera, terutama di hutan-hutan dataran rendah sampai dengan pegunungan. Wilayah penyebarannya pada ketinggian 0- 2.000 m dpl tetapi kadang-kadang juga sampai ketinggian lebih dari 2.400 m dpl (Yultisman, 2019).
2.3 Potensi Dari Harimau Sumatera
Harimau adalah salah satu spesies yang berperan besar membantu kelangsungan ekosistem hutan. Bukan sekadar hewan eksotik yang tinggal di hutan, harimau memiliki peran penting bagi kesehatan dan keanekaragaman hayati di hutan. Harimau termasuk apex predator atau pemangsa tingkat satu dalam rantai makanan. Si kucing terbesar ini berperan dalam menjaga populasi hewan herbivora atau omnivora yang dimangsanya tetap stabil, hewan ini misalnya adalah rusa atau babi hutan. Seperti keberadaan apex predator atau pemangsa tingkat atas lainnya, keberadaan harimau juga menandakan sebuah ekosistem merupakan ekosistem yang sehat (Putra, 2011).
Harimau merupakan salah satu predator utama yang mengartikan jika harimau juga akan membangun ekosistem di tempat mereka tinggal. Harimau akan memangsa hewan herbivora atau pemakan tanaman yang sekaligus juga mencegah kerusakan hutan. Jika hariamu tidak ada, maka hewan herbivora akan berkembangbiak tanpa kendali yang artinya akan merusak tanaman dalam hutan. Untuk itulah, harimau juga memiliki andil untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus ada juga manfaat hewan untuk manusia dalam hal ini adalah harimau (Olviana, 2011).
Keberadaan harimau juga secara tidak langsung memiliki manfaat untuk hutan. Karena harimau sudah terancam punah, maka pemerintah juga akan membantu untuk melindungi hutan sebagai tempat tinggal tersebut. Pohon dan tanaman tempat dimana harimau tinggal akan menyerap karbondioksida sehingga juga berkontribusi terhadap pengurangan pemanasan global. Melindungi lanskap harimau berarti juga melindungi hutan yang sangat penting untuk mengurangi karbondioksida sekaligus menghasilkan oksigen (Irawan, 2014).
Dengan menyelamatkan harimau, sebenarnya secara tidak langsung kita juga membantu dalam menyelamatkan ekosistem dan juga habitat hutan yang sangat besar. Sebagai predator puncak pada rantai makanan di habitatnya, maka jika populasi harimau terus menurun, maka kestabilan rantai makanan juga akan ikut terganggu dan akhirnya perubahan ekosistem akan terjadi. Untuk itulah menjaga harimau agar tidak punah menjadi hal penting untuk dilakukan agar keadaan hutan bisa selalu terjaga dan juga seimbang dimana harimau juga akan membantu terjaganya kesehatan dari sistem ekologi dan menjaga manfaat rantai makanan dalam ekosistem. Apabila harimau sampai punah, maka salah satu bagian dari rantai makanan akan punah dan ekosistem pada hutan juga ikut terganggu (Imamsyah, 2015).
Beberapa bagian tubuhnya yang sangat bisa digunakan sebagai perhiasan seperti khasiat taring harimau asli. Kuku dan taring dari harimau bisa digunakan baik untuk perhiasan yang bisa dipakai seperti liontin dan juga bisa dijadikan hiasan atau pajangan dalam rumah karena bentuknya yang memang sangat indah. Harimau yang merupakan hewan dilindungi ini semakin banyak diburu dan terancam punah adalah karena banyak orang yang ingin memiliki bagian kulit harimau. Kulit harimau tersebut seringkali digunakan untuk banyak kebutuhan mulai dari pembuatan mantel, karpet, tas dan berbagai kebutuhan komersil manusia lainnya seperti manfaat bulu domba. Bagian dari harimau juga bisa dijadikan sebagai pengobatan dan salah satunya adalah tulang harimau yang dianggap bisa mengobati berbagai macam penyakit (Ramadhanthy, 2018)
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) merupakan satu
diantara enam subspesies harimau (Panthera
Tigris) yang ada di dunia dan masih bertahan hidup.
2.
Harimau Sumatera memiliki
karakteristik yaitu bersifat kriptif/menyamar dengan ciri khas loreng kuning
keemasan dan garis hitam, bersifat elusive/sukar dipahami lebih cenderung
menghidar dari perjumpaan langsung dengan manusia
3.
Harimau Sumatera dapat ditemui
keberadaannya di hutan sekunder Taman Nasional Tesso Niladan Hutan Tanaman
Industri (HTI), dan tidak ditemukan di perkebunan Kelapa Sawit
4.
Habitat yang baik untuk Harimau
Sumatera yaitu habitat dimana tempat tersebut memiliki pasukan makanan yang
memadai, cukup akan air, udara dan sinar matahari.
5. Potensi dari Harimau Sumatera antara lain sebagai predator utama, melindungi hutan, menjaga ekosistem, sebagai puncak rantai makanan, sebagai perhiasan, dan untuk pakaian.
Saran
Sebaiknya untuk menjaga Harimau Sumatera harus tetap dilestarikan agar tidak punah tidak dilakukannya pemburuan liar, tidak merusak habitat asli Harimau Sumatera dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, A. 2016. Prediksi Kehadiran dan Koridor Harimau Sumatera (Panthera tigrissumatrae) di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera. UGM. Yogyakarta
Direktorat Perlidungan Hutan dan Pelestarian Alam. 2007. Strategi Konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Departemen Kehutanan Republik Indonesia
Ganesa A dan Aunurohim. 2012. Perilaku Harian Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dalam konservasi ex-situ Kebun Binatang Surabaya. Jurnal Sains dan Seni ITS, 1(1) : 48-53
Haidir, dkk. 2017. Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera. Direktorat Keanekaragaman Hayati. DITJEN KSDAE – KLHK. Jakarta
Imansyah, dkk., 2015. Prosiding Lokakarya Strategi Konservasi Jenis Terancam Punah Sumatera 2015-2020. KEHATI/TFCA-Sumatera, Jakarta.
Irawan RE. 2014. Motif Perburuan Harimau Sumatera pada Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga puluh, Kabupaten Indragirihulu.UNRI. Riau
Kuswanda W. dkk, 2010. Pengelolaan Populasi Mamalia Besar Terestrial di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 7(1) : 59-74
Olviana EA. 2011. Pendugaan Populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) Menggunakan Kamera Jebakan di Taman Nasional Berbak.IPB. Bogor
Putra AE. 2011. Kajian Musim Kawin Harimau Sumatera pada Lembaga Konservasi di Indonesia. IPB. Bogor
Ramadhanthy S. 2018. Peran World Wide Fund dalam Menanggulangi Perdagangan Illegal Harimau Sumatera di Riau. Jurnal of International Relations, 4(2) : 155-164.
Sumitran R. dkk. 2013. Keberadaan Harimau Sumatera dan Satwa Mangsanya di Berbagai Tipe Habitat pada Taman Nasional Tesso Nila. Universitas Riau. Pekanbaru
Suyadi, dkk, 2012. Model Spasial Kesesuaian Habitat Harimau Sumatera (Panthera tigrissumatrae) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Jurnal Berita Biologi, 11(1) : 93-104
Yultisman, dkk. 2019. Konservasi Ex Situ Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) diTaman Margasatwa Ragunan, Jakarta. Jurnal Sains Natural Universitas Nusa Bangsa, 9(1). 29-36

No comments:
Post a Comment